𝐉𝐀𝐋𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐀𝐍 𝐌𝐎𝐆𝐎𝐓 𝐃𝐀𝐍 𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐃𝐈 𝐁𝐀𝐋𝐈𝐊𝐍𝐘𝐀

Jalan Daan Mogot adalah salah satu nama jalan di daerah Jakarta Barat. Jalan Daan Mogot memiliki total panjang 27,5 KM. Jalan Daan Mogot mencakup daerah Kelurahan Sukarasa, Kota Tangerang sampai dengan daerah Kecamatan Grogol, Kota Jakarta Barat.

Nama dari Jalan Daan Mogot adalah bentuk dedikasi terhadap salah seorang pahlawan muda dan anggota PETA yang bernama Elias Daniel Mogot atau yang dikenal dengan nama Mayor Daan Mogot. Beliau lahir di Manado, 28 Desember 1928. Awal karir Daan Mogot dimulai ketika ia terpilih untuk mengikuti latihan Seinen Dojo atau pelatihan pemuda pada masa pendudukan Jepang. Berkat kepiawaiannya, Daan Mogot terpilih menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) di usia yang masih sangat muda. 

Pada tahun 1945 setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan, Daan Mogot bergabung dengan BKR (Barisan Keamanan Rakyat) yang kemudian berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan Daan Mogot pun mendapatkan pangkat Mayor. Keadaan Indonesia pasca kemerdekaan masih belum stabil sehingga banyak dijumpai daerah yang mengalami gencatan senjata dengan para penjajah, salah satunya di Tangerang. Atas hal itu, Daan Mogot mendirikan sekolah militer yang berlokasi di Resimen IV Tangerang. Namun, masalah terjadi ketika serdadu Jepang tidak mau menyerahkan senjatanya kepada Indonesia. Daan Mogot ditunjuk untuk melakukan diskusi dengan Kapten Abe, tetapi tidak mencapai kesepakatan.

Lalu pada 24 Januari 1946, Daan Mogot mendengar kabar bahwa Sekutu telah tiba di Parung. Daan Mogot pun melakukan siasat tipu daya dan berhasil meyakinkan Kapten Abe di tanggal 25 Januari 1946. Namun, saaa perundingan berjalan, terdapat suara tembakan yang membuat pihak Jepang curiga dan menganggap suara letusan itu adalah kode penyerangan. Senjata yang telah diamankan, kembali direbut oleh Jepang. Pertempuran pun meletus antara pihak Jepang dengan pihak Indonesia yang dipimpin oleh Daan Mogot. Pertempuran ini dikenal dengan Pertempuran atau Peristiwa Lengkong. Pertempuran Lengkong berjalan sangat tidak imbang. Daan Mogot beserta 2 perwira TRI dan 34 Taruna Akademi Militer Tangerang gugur dalam medan pertempuran. Daan Mogot wafat di usianya yang ke-17 tahun. Semua yang gugur dalam peristiwa Lengkong dimakamkan kembali pada tanggal 29 Januari 1946 di kompleks markas Resimen IV Tangerang yang sekarang bernama Makam Pahlawan Taruna.

Pada tahun 1993, didirikan Monumen Lengkong untuk mengenang Peristiwa Lengkong dan para pejuang yang gugur di dalamnya. Atas perjuangan, nama Daan Mogot diabadikan dalam bentuk nama sebuah jalan membentang dari Grogol, Jakarta Barat hingga Sukarasa, Tangerang dan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.



SUMBER:
   Rahayu Permana, Mayor Daan Mogot (1928-1946) Peran Dan Perjuangannya, JOURNAL OF SOCIAL SCIENCES & HUMANITIES “ESTORIA”, Vol. 1, No. 2 (Tahun 2021), hal. 111-117.
   Hanifa Rizky Indriastuty, Jumardi, Daan Mogot dalam Pertempuran Lengkong Sebagai Suplemen Materi Perjuangan Revolusi Mempertahankan Kemerdekaan, Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, Vol. 7 No. 1 (Tahun 2021), hal. 5-6.
   Petrik Matanasi, “Kematian Daan Mogot dan Sejarah Pertempuran Lengkong”, Tirto.id, https://tirto.id/kematian-daan-mogot-dan-sejarah-pertempuran-lengkong-bVHj (Tahun 2019) diakses pada 16 November 2024

Komentar

Postingan Populer