Rasa yang Paling Sakit yang Pernah Aku Rasakan

 




Setiap orang memiliki kebahagiaan dan kedukaannya masing-masing. Begitu pula dengan aku.


Aku mempunyai rasa yang mana ini amat sangat sakit. Lebih menyakitkan dari yang pernah aku rasakan. Dan ini terjadi, kala aku jatuh cinta. Pada cinta yang tak pernah bisa terbalaskan.


Tentu, jatuh cinta adalah salah satu hal yang indah. Masa yang begitu menyenangkan. Karena hati telah menemukan tambatannya. Jatuh cinta, rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam dada. Berdebar tidak karuan.


Namun, jatuh cinta juga bisa menyakitkan. Ya … namanya 'jatuh', tentu sakit bukan? Seperti cinta bertepuk sebelah tangan, atau cinta yang tak terbalaskan, bahkan cinta yang terpaut segala kekurangan. Rasanya tentu amat sangat sakit.


Karena aku pun merasakan sakitnya jatuh cinta.


Aku tengah jatuh cinta pada seorang pemuda. Yang namanya selalu hadir dalam ingatanku, selalu kusebut dalam akhir ibadahku, dan selalu kunantikan hadirnya. Pemuda itu, aku menyukainya. Tanpa banyak alasan yang jelas, tetapi aku benar-benar menyukainya.


Aku sudah mengatakannya. Mengakui dihadapannya secara langsung. Mengungkapkan bahwa aku menyukainya. Saat itu aku hanya ingin mengakui, tidak berharap banyak. Bahkan aku siap menerima risiko terburuk, yaitu dijauhi oleh dirinya.


Namun, yang terjadi justru bukanlah sebuah penolakan. Dia menerima perasaanku secara terbuka. Dia tidak mempermasalahkan itu. Sikapnya itu, tentu membuatku senang. Dan kami pun 'bersama' tanpa sebuah status. Karena bagi kami, status tidak terlalu berpengaruh.


Perasaanku kian hari kian merebak. Aku semakin jatuh dalam perasaanku padanya. Dan pada akhirnya … aku mencintainya.


Di saat seperti itu, aku melakukan sesuatu yang bisa disebut dengan pembuktian. Bukti bahwa perasaanku serius dan aku benar-benar menyukainya. Selama hubungan kami berjalan, aku tidak pernah mengharapkan banyak hal selain waktunya.


Berjalannya hari, berjalan pula hubungan kami. Semakin dekat dan semakin sering bertukar pesan dan kabar. Terkadang, beberapa kesempatan kami pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama-sama jua. Seperti pasangan pada umumnya.


Kami juga pernah beberapa kali berseteru karena sebuah hal. Ya bisa dibilang hal kecil. Namun, saat itu kami selalu bisa menemukan jalan keluarnya. Itulah salah satu mengapa aku betah bersamanya.


Yang aku tahu, aku amat sangat bahagia bersama dengannya. Aku pun berpikiran bahwa dia pun senang denganku. Karena aku tak pernah mendengar keluh kesahnya selama bersamaku.


Namun … ternyata aku keliru. Selama ini, rupanya dia hanya menghargai perasaanku dengan menuruti apa mauku. Dia … hanya ingin membuatku senang, setidaknya menganggap bahwa dia bukan pemuda yang jahat.


Di hari itu, aku mendengar semua pengakuanmu, secara langsung. Dan ya, aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menumpahkan semua sakitku hari itu juga di hadapanmu.


Kamu tahu, sakit … sakit sekali rasanya setelah mendengar pengakuanmu. Yang dulu aku pikir kamu memang menerimaku, rupanya perasaanmu itu hanya semu.


Kamu tahu, ini jauh lebih menyakitkan daripada rasanya ditolak dan diabaikan. Amat sangat menyakitkan. Dari semua kisah percintaanku, bersamamulah aku merasakan sakit yang paling menyakitkan dari semua rasa sakit yang pernah aku rasakan.


Aku tahu, selama ini kamu pasti merasa tidak nyaman bersamaku. Berpura-pura agar aku tidak kecewa dengan perasaan sendiri. Dan aku tahu, pasti kam merasa risi karena aku selalu mendekatimu. Iya, kan?


Baiklah, jika pada akhirnya adalah seperti ini. Aku tidak akan pernah bisa membencimu. Sekali pun rasanya sesakit ini. Aku masih menyimpan perasaan padamu sampai saat ini. Sekali pun tak akan pernah bisa terbalaskan.


Tak apa meskipun sakit sekali rasanya. Semoga kamu baik-baik saja. Dan semoga kamu bisa menemukan perempuan yang sesuai engkau harapkan. Terima kasih atas kenangan indahnya. Aku berharap, kamu bahagia.



Dipersakitan pada 31 Mei 2023

Komentar

Postingan Populer