Memoar Luka
Setiap manusia memiliki lukanya masing-masing. Begitu pula dengan aku.
Aku punya luka yang di mana tak sanggup untuk kujelaskan dan tak bisa untuk kutahan. Luka itu tak kunjung sembuh. Luka itu bak tak dapat termaafkan.
Aku sakit kala tidak sengaja mengingat luka itu. Aku memang lemah untuk menahan tangis. Rasanya bak ribuan belati menghujami hatiku. Sakit sekali rasanya, Tuhan.
Aku tidak mau larut dalam luka itu. Namun, mengapa rasanya sulit sekali? Mengapa sakitnya selalu membekas?
Tuhan, bukannya aku tak bisa memaafkan dia. Bukannya aku tak bisa berdamai. Rasanya … kenapa sulit untuk aku terima luka ini?
Semuanya membekas. Amarahnya, bentakannya, omongannya, semua emosinya. Aku masih bisa merasakan kepahitan itu sampai detik ini.
Dia memang sudah meminta maaf. Kami memang sudah berdamai. Namun, lukanya masih belum sembuh.
Aku tidak mau menangisi hal yang sama berulang-ulang. Aku juga tidak mau larut dalam kedukaan ini. Tuhan, tolong aku.
Dipersakitan, pada 22 Mei 2023


Komentar
Posting Komentar