Ayo Ikut Serta Membenahi Literasi Negeri Ini!
Tahukah teman-teman semua, bahwasanya tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah? Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyatakan bahwa tingkat literasi di Indonesia berada di ranking ke-62 dari 70 negara. Bahkan hasil studi berjudul "The World’s Most Literate Nations" menyebutkan, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Miris sekali bukan? Rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia ini sudah terjadi sejak lama, dan tidak ada perubahan sampai sekarang. Masih saja tetap rendah. Hal itu menunjukkan bahwa kita-kita sebagai bangsa Indonesia ini orang yang malas! Malas apa? Malas membaca, malas menulis!
Apakah teman-teman semua sudah tahu apa itu literasi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca. Pada dasarnya literasi itu adalah penguasaan seseorang dalam membaca dan menulis. Sepintas kelihatannya sesuatu yang mudah dan biasa, ‘kan? Tetapi justru inilah yang menjadi permasalahan yang serius di Indonesia. Semua orang memang bisa membaca dan menulis, tetapi tidak semua orang bisa menguasai baca dan tulis. Apalagi masyarakat pedalaman yang tinggal di daerah terpencil. Minimnya akses membuat mereka tidak benar-benar menguasai literasi. Bahkan di zaman saat ini, zaman serba canggih dan online, tetap saja tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah. Karena apa? Karena pengendalian penuh dari media online. Sehingga orang-orang di zaman ini jadi malas membaca buku fisik. Orang-orang jadi lebih sering berkutat dengan teks atau tulisan digital. Ini tentu menjadi pengaruh besar pada literasi Indonesia.
Data UNESCO menyebutkan, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma ada 1 orang saja yang benar-benar rajin membaca. Rendah dan minimnya minat membaca ini berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat Indonesia. Dengan demikian masyarakat Indonesia jadi mudah termakan hoax, jadi orang yang disinformasi, bahkan mudah dibohongi dan ditipu lewat kata-kata. Rendahnya minat membaca juga menyebabkan menurunnya daya kemampuan berinovasi dan berkreasi. Karena masalah 'minimnya minat membaca' menjadi masalah besar bagi Indonesia. Karena masyarakat Indonesia sendirilah yang turut serta membangun negara. Tetapi mereka justru sekarang tengah berada dalam krisis literasi. Benar-benar memprihatinkan.
Selain itu juga, rasa malas untuk menulis juga terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini. Malas berkutat dengan alat tulis, malas untuk memulai menulis sesuatu. Rasa malas ini dipengaruhi juga dari rasa malas membaca. Karena tanpa membaca, kita tidak akan tahu apa yang kita tulis. Tanpa membaca, kita tidak tahu huruf apa yang kita tulis. Membaca adalah hal yang sangat amat utama dalam literasi. Kalau tidak suka, tidak mau membaca, ya maka akan kesusahan. Karena dengan membacalah kita tahu segalanya. Kalau malas membaca, ya berarti malas melihat. Benar tidak? Kalau malas melihat, berarti sepanjang hari merem saja begitu?
Ada sebuah riset yang menyatakan bahwa netizen Indonesia dijuluki sebagai netizen yang berisik dan yang paling buruk se-Asia Tenggara. Itu terbukti dengan sikap jari-jari masyarakat Indonesia ketika berkomentar, ketika berbicara di media sosial, akan keluarlah berbagai macam pendapat, opini, kritikan, bahkan nyinyiran. Tidak peduli isi beritanya hoax atau fakta, nyinyir adalah nomor satu. Itu benar adanya. Masyarakat Indonesia seperti mudah dibohongi dengan sesuatu. Miris sekali.
Toh apa susahnya sih membaca? Apa sulitnya membaca? Rugikah kalau kita membaca? Adakah yang salah dengan membaca? Berdosakah kalau kita membaca? Tidak! Toh yang kita baca adalah hal yang positif, hal yang informatif, hal yang bermanfaat. Yang justru akan menjadi suntikan ilmu besar bagi hidup kita. Tahukah kawan-kawan dengan quote dari Joseph Addison yang mengatakan kalau "Membaca adalah alat paling dasar untuk meraih hidup yang baik." Nah jelas, bahwa dengan membaca akan memberikan hal-hal positif dalam hidup kita. Tidak akan rugi lho kalau membaca. Bahkan Bung Hatta mengatakan "Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." Dari kata-kata Bung Hatta ini sangat jelas kalau beliau adalah kutu buku, sangat menyukai buku dan membaca. Selain itu juga Voltaire pernah berkata "Semakin aku banyak membaca, makin aku banyak berpikir, makin aku banyak belajar, makin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun." Sangat jelas bukan kalau membaca tidak akan membuat si pembaca rugi‽
Maka dari itu, yo tingkatkan rasa kesadaran untuk membaca. Karena dari hal-hal positif seperti itu akan berdampak sangat besar bagi literasi bangsa kita. Dengan rutin membaca, menulis, perlahan-lahan tingkat literasi negara kita akan membaik. Maka dari itu, yo membaca! Yo menulis! Tidak usah takut! Ingat kata Pakde Pramoedya Ananta Toer, "Semua itu harus ditulis. Jangan takut tidak ada yang membaca, tidak diterima penerbit. Yang penting baca saja. Suatu saat nanti pasti akan berguna." Ayo ikut serta membenahi literasi negeri ini!


Komentar
Posting Komentar